Selasa, 22 September 2015

Pendapat dan Komentar Cerita Meraih Impian

TUGAS BAHASA INDONESIA
PENDAPAT DAN KOMENTAR DARI CERITA MERAIH IMPIAN
Meraih Mimpi Jadi Pengusaha



Pendapat:
Dari cerita tersebut saya berpendapat bahwa memang tidak ada keberhasilan tanpa usaha dan tidak ada usaha yang sia-sia.Tapi semua itu juga ada waktunya sendiri-sendiri.Kita harus tetap berusaha dan bersabar.Jangan takut untuk memulai dan mencoba hal-hal yang baru seperti berbisnis/berwirausaha.Tidak lupa juga do’a dan dukungan dari orang tua itu sangat berpengaruh terhadap kesuksesan kita.

Komentar:
Cerita tersebut diambil dari keberhasilan kisah hidup seseorang.Kisah ini dapat dijadikan sebagai motivasi,meskipun jalan setiap orang berbeda-beda.Setidaknya kita dapat mengambil hikmah dari cerita meraih impian tersebut dan mempersiapkan untuk segala kemungkinan yang bisa saja terjadi di kehidupan kita di masa yang akan datang.

Tugas Bahasa Indonesia : Alur Banun

 TUGAS BAHASA INDONESIA
ALUR CERITA BANUN



Cerpen Banun ceritanya saling bersangkutan dari awal yaitu keadaan Banun yang ditinggal mati suaminya,menyebabkan palar ingin meminanngnya. Setelah palar ditolak oleh Banun,Palar kecewa.
Kekecewaan Palar mendasari penghinaan Banun dengan sebutan kikir hanya karena tidak pernah membeli dagangan orang lain dan memilih bekerja keras untuk menanam tanaman itu sendiri serta mencari barang substitusi akan barang tersebut. Misalnya minyak tanah dan elpiji digantikan dengan daun kelapa yang kering
Palar tiba-tiba ingin meminang Rimah untuk Rustam,tapi Banun menolak lamaran itu.
Banun beralasan telah menjodohkan anaknya dengan lelaki lain,karena hatinya kecewa dengan Palar karena selalu menghinanya.
Hal ini menyebabkan Rimah memarahi Banun karena tidak menjodohkannya saja dengan Rustam,agar Banun tidak dihina lagi dengan julukan Banun kikir.

HAL-HAL YANG YANG DAPAT DITEMUKAN SEBAGAI PELAJARAN HIDUP DALAM CERITA MERAIH IMPIAN

 TUGAS BAHASA INDONESIA

HAL-HAL YANG DAPAT DITEMUKAN DALAM CERITA MERAIH IMPIAN SEBAGAI PELAJARAN HIDUP

Bekerja keras
Berambisi dan memiliki motivasi untuk meraih impian
Jangan takut gagal
Tegar dalam menjalani hidup
Tidak pernah putus asa
Terus berdoa dan berusaha
Tekun dalam belajar
Berani mencoba hal-hal baru seperti berbisnis/berwirausaha
Bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama
Tidak bersikap angkuh
Hormat dan berbakti kepada kedua orang tua


Senin, 17 Agustus 2015

TUGAS CERPEN BAWANG MERAH,BAWANG PUTIH

TUGAS BAHASA INDONESIA
CERPEN BAWANG MERAH,BAWANG PUTIH
(Jika Bawang Putih Bertemu Bandung Bondowoso)

         Ayah kandung Bawang Putih telah lama meninggal dunia. Bawang Putih adalah gadis sederhana yang rendah hati, tekun, rajin, jujur dan baik hati. Sementara Bawang Merah adalah seorang gadis yang malas, sombong, suka bermewah-mewah, tamak dan pendengki. Sifat buruk Bawang Merah kian menjadi-jadi akibat ibunya selalu memanjakannya. Sang janda selalu memenuhi semua permintaan dan tuntutan Bawang Merah. Selain itu semua pekerjaan di rumah selalu dilimpahkan kepada Bawang Putih.sementara Bawang Merah dan Ibu Tiri selalu berdandan dan bermalas-malasan.
***
Saat Bawang Putih mencuci kain milik ibunya,kain itu hanyut.Bawang Putih takut pulang ke rumah karena bisa saja Bawang Putih dihukum oleh ibu tirinya.Bawang Putih berjalan menyusuri sungai untuk mencari kain itu.Setelah Bawang Putih lelah menyusuri sungai,dia memutuskan untuk istitahat di bawah pohon beringin.Saat istirahat,tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berdiri di depannya  dengan membawa sehelai kain.


"Apakah kain ini milikmu?" tanya lelaki itu

"Iya.benar,itu milik ibuku." jawab Bawang Putih dengan sedikit ketakutan.

"Aku akan memberikan kain ini jika anak dari pemilik kain ini mau menjadi istriku."

"Memangnya kamu ini siapa,beraninya ingin menikah dengan anak dari ibuku."

"Aku Bandung Bondowoso.Akulah raja di daerah ini."

"Oh..maafkan saya tuan,saya tidak tahu. "

***
Bawang Putih memperkenalkan Bandung dengan ibu tirinya.Karena Bandung seorang raja,janda itu ingin menikahkan Bandung dengan Bawang Merah.Bawang Merah meminta Bandung membuatkan seribu candi untuknya.Bandung langsung menyanggupi syarat itu.Bandung meminta bantuan prajuritnya untuk membuat seribu candi.Saat Bandung melihat-lihat candi itu,dia mendengar Bawang Merah berbicara dengan ibunya,ternyata mereka hanya ingin menguasai harta milik Bandung.Mendengar hal itu Bandung marah besar dan menendang candi di depan Bawang Merah hingga Bawang Merah tewas tertimpa candi itu.Karena ibu Bawang Merah tidak terima, dia mengutuk Bandung menjadi batu.Hal itu tidak berhasil karena Bandung bukan anak kandungnya,dan janda itu menjadi sakit jiwa karena peristiwa itu.Akhirnya Bandung memaksa Bawang Putih untuk menjadi permaisurinya.

PERIODESASI SASTRA INDONESIA

                                PERIODESASI SATRA INDONESIA
Angkatan Balai Pustaka (1920—1933)
Balai Pustaka didirikan pada tahun 1908, tetapi baru tahun 1920-an kegiatannya dikenal banyak pembaca (Purwoko, 2004: 143). Berawal ketika pemerintah Belanda mendapat kekuasaan dari Raja untuk mempergunakan uang sebesar F.25.000 setiap tahun guna keperluan sekolah bumi putera yang ternyata justru meningkatkan pendidikan masyarakat. Commissie voor de Inlandsche School-en Volkslectuur, yang dalam perkembangannya berganti nama Balai Poestaka, didirikan dengan tujuan utama menyediakan bahan bacaan yang “tepat” bagi penduduk pribumi yang menamatkan sekolah dengan sistem pendidikan Barat. Sebagai pusat produksi karya sastra, Balai Poestaka mempunyai beberapa strategi signifikan (Purwoko, 2014: 147), yaitu
  1. merekrut dewan redaksi secara selektif
  2. membentuk jaringan distribusi buku secara sistematis
  3. menentukan kriteria literer
  4. mendominasi dunia kritik sastra
Pada masa ini bahasa Melayu Riau dipandang sebagai bahasa Melayu standar yang yang lebih baik dari dialek-dialek Melayu lain seperti Betawi, Jawa, atau Sumatera. Oleh karena itu, para lulusan sekolah asal Minangkabau, yang diperkirakan lebih mampu mempelajari bahasa Melayu Riau, dipilih sebagai dewan redaksi. Beberapa diantaranya adalah Armjin Pene dan Alisjahbana. Angkatan Balai Poestaka baru mengeluarkan novel pertamanya yang berjudul Azab dan Sengsara karya Merari Siregar pada tahun 1920-an. Novel yang mengangkat fenomena kawin paksa pada masa itu menjadi tren baru bagi dunia sastra. Novel-novel lain dengan tema serupa pun mulai bermunculan. Adapun ciri-ciri karya sastra pada masa Balai Poestaka, yaitu
  1. Gaya Bahasa : Ungkapan klise pepatah/pribahasa.
  2. Alur : Alur Lurus.
  3. Tokoh : Plot karakter ( digambarkan langsung oleh narator ).
  4. Pusat Pengisahan : Terletak pada orang ketiga dan orang pertama.
  5. Terdapat digresi : Penyelipan/sisipan yang tidak terlalu penting, yang dapat menganggu kelancaran teks.
  6. Corak : Romantis sentimental.
  7. Sifat : Didaktis (pendidikan)
  8. Latar belakang sosial : Pertentangan paham antara kaum muda dengan kaum tua.
  9. Peristiwa yang diceritakan saesuai dengan realitas kehidupan masyarakat.
  10. Puisinya berbentuk syair dan pantun.
  11. Menggambarkan tema pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda, soal pertentangan adat, soal kawin paksa, permaduan, dll.
  12. Soal kebangsaan belum mengemuka, masih bersifat kedaerahan.
Angkatan Pujangga Baru (1933—1942)
Pada tahun1933, Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sultan Takdir Alisjahbana mendirikan sebuah majalah yang diberi nama Poejangga Baroe. Majalah Poedjangga Baroe menjadi wadah khususnya bagi seniman atau pujangga yang ingin mewujudkan keahlian dalam berseni. Poedjangga Baroe merujuk pada nama sebuah institusi literer yang berorientasi ke aneka kegiatan yang dilakukan para penulis pemula. Majalah ini diharapkan berperan sebagai sarana untuk mengoordinasi para penulis yang hasil karyanya tidak bisa diterbitkan Balai Poestaka (Purwoko, 2004: 154).
Selain memublikasikan karya sastra, majalah ini juga merintis sebuah rubrik untuk memuat esai kebudayaan yang diilhami oleh Alisjahbana dan Armijn Pane. Kelahiran majalah Poedjangga Baroe menjadi titik tolak kebangkitan kesusastraan Indonesia. S.T. Alisjahbana, dalam artikel Menudju Masjarakat dan Kebudajaan Baru, menjelaskan bahwa sastra Indonesia sebelum abad 20 dan sesudahnya memiliki perbedaan yang didasari pada semangat keindonesiaan dan keinginan yang besar akan perubahan.
Adapun karakteristik karya sastra pada masa itu terlihat melalui roman-romannya yang sangat produktif dan diterima secara luas oleh masyarakat. Pengarang yang paling produktif yaitu Hamka dan Alisjahbana. Hamka, dalam Mengarang Roman, mengatakan Roman adalah bentuk modern dari hikayat. Roman memperhalus bahasa yang sebelumnya sangat karut marut menyerupai kalimat Tionghoa sehingga secara tidak langsung roman-roman yang ada mampu memicu minat baca masyarakat yang awalnya tidak gemar membaca.
Berdasarkan isi cerita, tema-tema yang ada memperlihatkan kecenderungan para pengarang yang membuat tokoh-tokoh dalam ceritanya berakhir pada kematian. Pengaruh Barat yang sangat kental pada perkembangan sastra Indonesia dalam periode Pujangga Baru menghasilkan beberapa perbedaan pandangan dalam kalangan sastrawan pada saat itu.Sebagai contoh, novel pertama yang diterbitkan majalah ini, Belenggu, pernah ditolak oleh Balai Pustaka karena dianggap mengandung isu tentang nasionalisme dan perkawinan yang retak. Dengan alasan didaktis, kedua isu budaya tersebut dianggap tidak cocok dengan kebijakan pemerintah kolonial.
Angkatan ’45
Munculnya Chairil Anwar dalam panggung sejarah sastra Indonesia dengan menampilkan sajak-sajak yang bernilai tinggi memberikan sesuatu yang baru bagi dunia sastra tanah air. Bahasa yang dipergunakannya adalah bahasa Indonesia yang berjiwa. Bukan lagi bahasa buku, melainkan bahasa percakapan sehari-hari yang dibuatnya bernilai sastra (Rosidi, 1965: 91). Dengan munculnya kenyataan itu, maka banyaklah orang yang berpendapat bahwa suatu angkatan kesusateraan baru telah lahir. Angkatan ini memiliki beberapa sebutan, yaitu Angkatan ’45, Angkatan Kemerdekaan, Angkatan Chairil Anwar, Angkatan Perang, Angkatan Sesudah Perang, Angkatan Sesudah Pujangga Baru, Angkatan Pembebasan, dan Generasi Gelanggang.
Angkatan ’45 adalah angkatan yang muncul setelah berakhirnya Angkatan Pujangga Baru. Angkatan ini terbentuk karena Angkatan Pujangga Baru dianggap gagal menjalankan gagasannya. Pujangga Baru yang semula memiliki gagasan baratisasi sastra Indonesia, nyatanya hanya mentok pada belandanisasi. Dengan kata lain, tokoh-tokoh atau karya-karya seni dan sastra yang diambil sebagai acuan dan sumber inspirasi hanya berasal dari negeri Belanda saja, bukan dari penjuru Barat. Untuk meluruskan persepsi tersebut, muncullah Angkatan ’45 sebagai gantinya.
Keberadaan angkatan ini erat hubungannya dengan Surat Kepercayaan Gelanggang. Konsep humanisme universal menjadi acuan Perkumpulan Gelanggang karena mereka merasa karya-karya yang dibuat oleh Angkatan Pujangga Baru kurang realistis pada masa itu. Angkatan Pujangga Baru yang beraliran romatis dinilai terlalu utopis dan hanya mementingkan estetika. Berbeda dengan Angkatan Pujangga Baru, Angkatan ’45 beraliran ekspresionisme-realistik. Karya-karya yang dihasilkan bergaya ekspresif, menggambarkan identitas si seniman dan juga realistis. Dalam hal ini, realistis berarti fungsional atau berguna untuk masyarakat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Angkatan ’45 menganut pendapat seni untuk masyarakat, sementara Pujangga Baru menganut pendapat seni untuk seni.
Tema yang banyak diangkat dalam karya-karya seni Angkatan ’45 adalah tema tentang perjuangan kemerdekaan. Dari karya-karya bertemakan perjuangan itulah amanat yang menyatakan bahwa perjuangan mencapai kemerdekaan tak hanya dapat dilakukan melalui politik atau angkat senjata, tetapi perjuangan juga dapat dilakukan melalui karya-karya seni. Angkatan ’45 mulai melemah ketika sang pelopor, Chairil Anwar, meninggal dunia. Selain itu, Asrul Sani, yang juga merupakan salah satu pelopor mulai menyibukkan diri membuat skenario film. Kehilangan akan kedua orang tersebut membuat Angkatan ’45 seolah kehilangan kemudinya. Akhirnya, masa Angkatan ’45 berakhir dan digantikan dengan Angkatan’50.
Angkatan ’45 memiliki gaya yang berbeda dengan Angkatan Pujangga Baru. Gaya ini dipengaruhi oleh kondisi politik masing-masing angkatan. Angkatan Pujangga Baru memiliki gaya romantis-idealis karena pada saat itu perjuangan kemerdekaan belum sekeras yang dialami Angkatan ’45. Sementara Angkatan ’45 yang terbentuk pada saat gencarnya perjuangan kemerdekaan memilih gaya ekspresionisme-realistik agar dapat berguna dan diterima oleh masyarakat. Pada akhirnya, semua angkatan yang ada sepantasnya menyadari fungsi sosial mereka. Setiap angkatan harus memikirkan letak kebermanfaatan mereka bagi masyarakat karena mereka hidup dan tumbuh di dalam masyarakat.
Angkatan 1950
Angkatan ini dikenal krisis sastra Indonesia. Sejak Chairil Anwar meninggal, lingkungan kebudayaan “Gelanggang Seniman Merdeka” seolah-olah kehilangan vitalitas. Salah satu alasan utama terhadap tuduhan krisis sastra tersebut adalah karena kurangnya jumlah buku yang terbit. Sejak tahun 1953 , Balai Pustaka yang sejak dulu bertindak sebagai penerbit utama buku-buku sastra, kedudukannya sudah tidak menentu (Rosidi, 1965: 137). Sejak saat itu aktivitas sastra hanya dalam majalah-majalah, seperti Gelanggang/Siasat, Mimbar Indonesia, Zenith, Poedjangga Baroe, dll.
Karena sifat majalah, maka karangan-karangan yang mendapat tempat terutama yang berupa sajak, cerpen, dan karangan-karangan lain yang tidak begitu panjang. Sesuai dengan yang dibutuhkan oleh majalah-majalah, maka tak anehlah kalau para pengarangpun lantas hanya mengarang cerpen, sajak, dan karangan lain yang pendek-pendek (Rosidi, 1965: 138). Hal itulah yang memunculkan istilah “sastra majalah” pada masa itu. Berikut pendapat Soeprijadi Tomodihardjo, dalam artikelnya “Sumber-Sumber Kegiatan”1
  1. Kesusastraan sedang memasuki masa krisis, masalah kualitas dan kuantitas.
  2. Ekspansi ideologi ke dalam dunia seni mengakibatkan banyak orang meninggalkan nilai-nilai seni yang wajar, dan ideologi politik kian menguat.
  3. Seni dan politik adalah pencampuradukan yang lahir dari kondisi masa itu.
  4. Pada masa itu pula telah lahir organisasi-organisasi kegiatan kesenian yang mengarahkan kegiatanya pada seni sastra dan seni drama.
  5. Hal ini mengindikasikan seni mendapat perhatian.
  6. Kesusastraan berhubungan erat dengan adanya tempat berkegiatan, Jakarta di angggap sebagai pusatnya. Anggapan ini diluruskan, Jakarta hanya sebagai pusat produksi dan publikasi
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa angkatan 1950 merupakan angkatan yang sepi oleh karya karena sastra Indonesia yang ada dianggap sudah tidak lagi memiliki identitas, kesusasteraan mengalami krisis baik kualitas maupun kuantitas karena lahirnya pesimisme dan penggunaan seni ke ranah politik yang tidak dibarengi dengan tanggung jawab.
Angkatan 1966
Adalah suatu kenyataan sejarah bahwa sejak awal pertumbuhannya sastrawan-sastrawan Indonesia menunjukkan perhatian yang serius kepada politik (Rosidi, 1965: 177). Pada masa ini sastra sangat dipengaruhi oleh lembaga kebudayaan seperti Lekra dan Manikebu. Pada tahun 1961 Lekra,organ PKI yang memperjuangkan komunisme, dinyatakan sebagai organisasi kebudayaan yang memperjuangkan slogan “politik adalah panglima”. Sementara Menifes Kebudayaan merupakan sebuah konsep atau pemikiran di bidang kebudayaan dan merupakan sebuah reaksi terhadap teror budaya yang pada waktu itu dilancarkan oleh orang-orang Lekra. Manifes kebudayaan di tuduh anti-Manipol dan kontra Revolusioner sehingga harus dihapuskan dari muka bumi Indonesia. Pelarangan Manifes Kebudayaan diikuti tindakan politis yang makin memojokkan orang-orang Manifes Kebudayaan, yaitu pelarangan buku karya pengarang-pengarang yang berada di barisan. Adapun buku-buku yang pernah dilarang, antara lain Pramudya Ananta Toer, Percikan Revolusi, Keluarga Gerirya, Bukan pasar Malam ,Panggil Aku Kartini Saja , Korupsi dll; Utuy T. Sontani, Suling, Bunga Rumah makan,Orang-orang Sial, Si Kabayan dll; Bakri Siregar, Ceramah Sastra, Jejak Langkah , Sejarah Kesusastraan Indonesia Modern.
Menurut H. B. Jassin, ciri-ciri karya pada masa ini adalah sebagai berikut
  1. mempunyai konsepsi Pancasila
  2. menggemakan protes sosial dan politik
  3. membawa kesadaran nurani manusia
  4. mempunyai kesadaran akan moral dan agama
Angkatan 70-an sampai sekarang
Pada masa ini karya sastra berperan untuk membentuk pemikiran tentang keindonesiaan setelah mengalami kombinasi dengan pemikiran lain, seperti budaya. Ide, filsafat, dan gebrakan-gebrakan baru muncul di era ini, beberapa karya keluar dari paten dengan memperbincangkan agama dan mulai bermunculan kubu-kubu sastra populer dan sastra majalah. Pada masa ini pula karya yang bersifat absurd mulai tampak.
Di tahun 1980—1990-an banyak penulis Indonesia yang berbakat, tetapi sayang karena mereka dilihat dari kacamata ideologi suatu penerbit. Salah satu penerbit yang terkenal sampai sekarang adalah Gramedia. Gramedia merupakan penerbit yang memperhatikan sastra dan membuka ruang untuk semua jenis sastra sehingga penulis Indonesia senantiasa memiliki kreativitas dengan belajar dari berbagai paten karya, baik itu karya populer, kedaerahan, maupun karya urban. Sementara setelah masa reformasi, yaitu tahun 2000-an, kondisi sastra tanah air dapat digambarkan sebagai berikut2
  1. Kritik Rezim Orde Baru
  2. Wacana Urban dan Adsurditas
  3. Kritik Pemerintah terus berjalan
  4. Sastra masuk melalui majalah selain majalah sastra.
  5. Sastra bersanding dengan Seni Lainnya, banyak terjadi alih wahana pada jaman sekarang
  6. Karya yang dilarang terbit pada masa 70-an diterbitkan di tahun 2000-an, banyak karya Pram yang diterbitkan, karya Hersri Setiawan, Remy Sylado, dsb.
Seperti seorang anak, Sastra mengalami masa pertumbuhan. Masa pertumbuhan sastra tidak akan dewasa hingga jaman mengurungnya. Sastra akan terus menilai jaman melalui pemikiran dan karya sastrawannya. Pada tahun 1970-an, sastra memiliki karakter yang keluar dari paten normatif. Pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an, sastra memiliki karakter yang diimbangi dengan arus budaya populer. Pada tahun 2000-an hingga saat ini, sastra kembali memiliki keragaman kahzanah dari yang populer, kritik, reflektif, dan masuk ke ranah erotika dan absurditas3.

 PERIODESASI SASTRA INDONESIA
 
1.      PUJANGGA LAMA
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasikan karya sastra Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20, pada masa ini karya sastra didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Di Nusantara budaya melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatra dan semenanjung malaya. Di Sumatra bagian utara muncul karya-kaya penting berbahasa melayu terutama karya-karya keagamaan.
Hamzah Pansuri adalah yang pertama diantara penulis angkatan pujangga lama dari istana kesultanan Aceh pada abad ke-17 muncul karya klasik selanjutnya yang paling terkenal adalah karya Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf Singkir serta Nuruddin Arraniri.
·           Karya sastra pujangga lama
1.        Hikayat
-            Hikayat Abdullah                      -     Hikayat Kalia dan Damina
-            Hikayat Aceh                             -     Hikayat masyidullah
-            Hikayat Amir Hamzah               -     Hikayat Pandawa jaya
-            Hikayat Andaken Panurat         -     Hikayat Panda Tonderan
-            Hikayat Bayan Budiman           -     Hikayat Putri Djohar Munikam
-            Hikayat Hang Tuah                    -     Hikayat Sri Rama
-            Hikayat Iskandar Zulkarnaen    -     Hikayat Jendera Hasan
-            Hikayat Kadirun                                   -     Tasibul Hikaya
2.        Syair
-            Syair Bidasari
-            Syair Ken Tambuhan
-            Syair Raja Mambang Jauhari
-            Syair Raja Siam
3.        Kitab Agama
-            Syarab Al Asyidiqin (minuman para pecinta) oleh Hamzah Panzuri
-            Asrar Al-arifin (rahasia-rahasia gnostik) oleh Hamzah Panzuri
-            Nur ad-duqa’iq (cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsudin Pasai.
-            Bustan as-salatin (taman raja-raja) oleh Nuruddin Ar-Raniri.
2.      SASTRA MELAYU LAMA
Karya satra yang dihasilkan antara tahun 1870-1942 yang berkembang dilingkungan masyarakat sumatra seperti “Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan Sumatra lainnya”, orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat, dan terjemahan novel barat.
·           Karya Sastra Melayu Lama
-            Robinson Crousoe (terjemahan)
-            Lawan-lawan Merah
-            Mengelilingi Bumi Dalam 80 Hari (terjemahan)
-            Grauf de Monte Cristo (terjemahan)
-            Rocambole (terjemahan)
-            Nyui Dasima oleh G. Prancis (indo)
-            Bung Rampai oleh A.F. Bewali
-            Kisah Perjanan Nahkoda Bontekoe
-            Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
-            Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R. Komer (indo)
-            Cerita Nyonya Kong Hong Nio
-            Nona Leonie
-            Warna Sari Melayu oleh Kat. S.J
-            Cerita Si Conat oleh F.D.J
3.      ANGKATAN BALAI PUSTAKA
Angkatan Balai Pustaka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit “Bali Pustaka”. Prosa (roman, novel,cerpen, dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam, hikayat, dan kazhanah sastra di Indonesia pada masa ini
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan sastra melayu rendah yang tidak menyoroti pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam 3 bahasa yaitu bahasa Melayu tinggi, bahasa Jawa, dan bahasa Sunda, dan dalam jumlah yang terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sultan Iskandar” dapat disebut sebagai “raja angkatan balai pustaka” karna karya-karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapat dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah  novel Sumatera dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Pada masa ini novel “Siti Nurbaya, dan Salah Asuhan” menjadi karya cukup penting, keduanya mengkritik adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
1.        Merari Siregar
-            Azab dan Sengsara (1920)
-            Binasa Karna Gadis Priangan (1931)
-            Cinta dan Hawa Nafsu
2.        Marah Roesli
-            Siti Nurbaya (1922)
-            Laihami (1924)
-            Anak dan Kemanakan (1956)
3.        Muhammad Yamin
-            Tanah Air (1922)
-            Indonesia Tumpah Darahku (1928)
-            Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
-            Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
4.        Nur Sultan Iskandar
-            Apa Dayaku Karna Aku Seorang Perempuan (1923)
-            Cinta Yang Membawa Maut (1926)
-            Salah Pilih (1928)
-            Tuba Dibalas Dengan Susu (1933)
-            Hulubalung Raja (1934)
-            Katak Hendak Menjadi Lembu.
5.        Lulis Sutan Suti
-            Tak Disangka (1923)
-            Sengsara Membawa Nikmat (1928)
-            Tak Membalas Guna (1932)
-            Memutuskan Pertalian (1932)
6.        Djamaluddin Adinegoro
-            Dara Muda (1927)
-            Asmara Jaya (1928)
-            Abas Soetan Pamoentjak
-            Pertemuan (1927)
7.        Abdul Muis
-            Salah Asuhan (1928)
-            Pertemuan Jodoh (1933)
8.        Aman Datuk Madjoindo
-            Menebus Dosa (1932)
-            Sicebol Merindukan Bulan (1934)
-            Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
4.      PUJANGGA BARU
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik, dan elistik.
Pada masa itu, terbit pula majalah pujangga baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930–1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Karyanya layar terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tengelamnya Kapal Vander Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Pada masa ini dua kelompok sastrawan Pujangga Baru yaitu :
1.    Kelompok “Seni Untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah.
2.    Kelompok “Seni Untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Rustam Effendi.
·           Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
1.        Sutan Takdir Alisjabana
-       Dian Tak Kunjung Padam (1932)
-       Tebaran Mega- kumpulan sajak (1935)
-       Layar Terkembang (1936)
-       Anak Perawan di Sarang Penyuman (1940)
2.        Hamka
-       Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
-       Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939)
-       Tuan direktur (1950)
-       Di Dalam Lembah Kehidupan (1940)
3.        Armijn Pane
-       Jiwa Berjiwa Gamelan Djiwa- kumpulan sajak (1960)
-       Djinak-djinak Merpati- sandiwara (1950)
-       Kisah Antara Manusia (1953)
4.        Sanusi Pane
-            Pancaran Cinta (1926)
-            Puspa mega (1927)
-            Sandhykala Ning Majapahit (1933)
-            Kertajaya (1932)
5.        Tengku Amir Hamzah
-            Nyanyi Sunyi (1937)
-            Begawat Gita (1933)
-            Setanggi Timur (1939)
5.      ANGKATAN 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan “45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga Baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan “45 memiliki konsep yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang” konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan “45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Menguak Takdir dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
1.      Chairil Anwar
-            Kerikil Tajam (1949)
-            Deru Campur Debu (1949)
2.      Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
-            Tiga Menguak Takdir (1950)
3.      Idrus
-            Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
-            Aki (1949)
-            Perempuan Dan Kebangsaan
4.      Achdiat K. Mihardja
-            Atheis (1949)
5.      Trisno Sumardjo
-            Katahati dan Perbuatan (1952)
6.      Utuy Tatang Sontani
-            Suling (drama) (1948)
-            Tambera (1949)
-            Awal dan Mira – drama satu babak (1962)
7.      Suman Hs
-            Kasih ta’ Terlarai (1961)
-            Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
-            Pertjobaan Setia (1940)
6.      ANGKATAN 1950-1960-an
Angkatan ’50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah Asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi oleh cerita pendek dan kompulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis di kalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (lekra) yang berkonsep sastra Realisme-Sosialis. Timbulnya perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di kalangan sastrawan Indonesia pada awal tahun 1960, menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karna masuk ke dalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 – 1960-an
1.      Pramoedya Ananta Toer
-            Keranji dan Bekasi Jatuh (1947)
-            Bukan Pasar Malam (1951)
-            Di Tepi Kali Bekasi (1951)
-            Keluarga Gerilya (1951)
-            Mereka Yang Dilumpuhkan (1951)
-            Cerita Dari Blora (1952)
-            Gadis Pantai (1965)
2.      Nh. Dini
-            Dunia Dunia (1950)
-            Hati Jang Damai (1960)
3.      Sitor Situmorang
-            Dalam Sadjak (1950)
-            Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
-            Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
-            Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
-            Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
4.      Muchtar Lubis
-            Tak Ada Esok (1950)
-            Jalan Tak Ada Ujung (1952)
-            Tanah Gersang (1964)
-            Si Djamal (1964)
5.      Marius Ramis Dayoh
-            Putra Budiman (1951)
-            Pahlawan Minahasa (1957)
6.      Ajip Rosidi
-            Tahun-tahun Kematian (1955)
-            Di Tengah Keluarga (1956)
-            Sebuah Rumah Untuk Hari Tua (1957)
-            Cari Muatan (1959)
-            Pertemuan Kembali (1961)
7.      Ali Akbar Navis
-            Robohnya Surau Kami- 8 cerita pendek pilihan (1955)
-            Bianglala- kumpulan cerita pendek (1963)
-            Hujan Panas (1964)
-            Kemarau (1967)
7.      ANGKATAN 1966 – 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Muchtar Lubis. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbitan Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Montiggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rusanto, Goenawan Mohamad, dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia H.B. Jassin.
Beberapa sastrawan pada angkatan ini antara lain : Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C.Noer, Darmanto Jatman, Arif Budiman, Goenawan Muhamad, Budi Darma, Hamsat Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, DLL.
·           Penulis Dan Karya Sastra Angkatan 1966
1.      Taufik Ismail
-            Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
-            Tirani dan Benteng
-            Buku Tamu Musim Perjuangan
-            Sajak Ladang Jagung
-            Kenalkan
-            Saya Hewan
-            Puisi-puisi Langit
2.      Sutardji Calzom Bachri
-            O
-            Amuk
-            Kapak
3.      Abdul Hadi WM
-            Meditasi (1976)
-            Potret Panjung Pengunjung Pantai Sanur (1975)
-            Tergantung Pada Angin (1977)
4.      Supardi Djoko Damono
-            Dukamu Abadi (1969)
-            Mata Pisau (1974)
5.      Goenawan Muhamad
-            Perikesit (1969)
-            Interlude (1971)
-            Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Simalin Kundang (1972)
-            Seks, Sastra, dan Kita (180)
6.      Umar Kayam
-            Seribu Kunang-kunang di Manhattan
-            Sri Sumara dan Bawuk
-            Lebaran Di Karet
-            Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
-            Kelir Tanpa Batas
-            Para Priyayi
-            Jalan Manikung
7.      Danarto
-            Godlob
-            Adam Makrifat
-            Berhala
8.      Nasjah Djamin
-            Hilanglah Si Anak Hilang (1963)
-            Gairah Untuk Hidup dan Mati (1968)
9.      Putu Wijaya
-              Bila Malam Bertambah Malam (1971)
-              Telegram (1973)   - Pabrik
-              Stasiun (1977)      - Gres dan Bom
8.      ANGKATAN 1980 – 1990-an
Karya sastra Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada angkatan ini tersebar luas di berbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an antara lain adalah : Rami Sylado,Yudistria Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Aji Darma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Efendi Tarsyad, Noor Aini Cahaya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Huriko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, dimana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya tokoh utama pada novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-kaya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih dan berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Wanita yang dikomandoi  Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardanhi, Diah Hadaning, Yvonne De Fretes, dan Oka Rusmini.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 – 1990-an
1.      Ahmadun Yosi Herfanda
-              Ladang Hijau (1980)
-              Sajak Penari (1990)
-              Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
-              Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
-              Sembahyang Rerumputan (1997)
2.      Y.B Mangunwijaya
-              Burung-burung Manyar (1981)
3.      Darman Moenir
-            Bako (1983)
-            Dendang (1988)
4.      Budi Darma
-            Olenka (1983)
-            Rafilus (1988)
5.      Sundhunata
-            Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
6.      Arswendo Atmowilito
-            Canting (1986)
7.      Hilman Hariwijaya
-            Lupus – 28 novel (1986-2007)
-            Lupus Kecil – 13 novel (1989-2003)
-            Olga Sepatu Roda (1992)
-            Lupus ABG – 11 novel (1995- 2005)
8.      Dorothea Rosa Herliany
-            Nyanyian Gaduh (1987)
-            Matahari Yang Mengalir (1990)
-            Kepompong Sunyi (1993)
-            Nikah Ilalang (1995)
-            Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
9.      Gustaf Rizal
-            Segi Empat Patah Sisi (1990)
-            Segitiga Lepas Kaki (1991)
-            Ben (1992)
-            Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
10.  Remy Silado
-            Ca Bau Kan (1999)
-            Kerudung Merah Kirmizi (2002)
11.  Afrizal Malna
-            Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
-            Yang Berdiam Dalam Mikrofon (1990)
-            Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
-            Dinamika Budaya dan Politik (1991)
-            Arsitektur Hujan (1995)
-            Pistol Perdamaian (1996)
-            Kalung Dari Teman(1998)
9.      ANGKATAN REFORMASI
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaran politik  dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdulrahman Wahid (Gusdur) dan Megawati Soekarno Putri, muncul wacana tentang “Sastrawan Angkatan Reformasi”. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi. Di rubik sastra harian Repoblika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubik sajak-sajak peduli Bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan angktan Reformasih merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses Reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra, puisi, cerpen dan novel pada masa itu. Bahkan penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial-politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep zamzam Noer, dan Hartono Beny Hidayat dengan media online: duniasastra.com-nya , juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
1.      Widji Thukul
-              Puisi Pelo
-              Darman
10.  ANGKATAN 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasih muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karna tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya “Angkatan 2000”. Sebuah buku tebal tentang angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmad Yosi Herfanda, dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada 1990-an  seperti Ayu Utami, dan Dhorotea Rosa Herliany.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
1.      Ayu Utami
-            Saman (1998)
-            Larung (2001)
2.      Seno Gumira Ajidarma
-            Atas Nama Malam
-            Sepotong Senja Untuk Pacarku
-            Biola Tak Berdawai
3.      Dewi Lestari
-            Supernova 1: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh (2001)
-            Supernova 2.1: Akar (2002)
-            Supernova 2.2: Petir (2004)
4.      Raudal Tanjung Banua
-            Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
-            Ziarah Bagi Yang Hidup (2004)
-            Perang Tak Berulu (2005)
-            Gugusan Mata Ibu (2005)
5.      Habiburrahman El Shirazy
-            Ayat-ayat Cinta (2004)
-            Di Atas Sajadah Cinta (2004)
-            Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
-            Pudarnya Pesona Cleopatra(2005)
-            Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
-            Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
-            Dalam Mihrab Cinta (2007)
6.      Andrea Hirata
-            Laskar Pelangi (2005)
-            Sang Pemimpi (2006)
-            Edensor (2007)
-            Maryamah Karpov (2008)
-            Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
7.      Ahmad Faudi
-            Negeri Lima Menara (2009)
-            Ranah Tiga Warna (2011)
8.      Tosa
-            Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
-            Melan Conis (2009)
11.  CYBERSASTRA
Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi melalui buku namun termagtub di dunia maya (internet), baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi. Ada beberapa sistus Sastra Indonesia di dunia maya misalnya: duniasastra.com